Bagian 03

Indikator Kemiskinan

Apa sebenarnya yang membuat sebuah keluarga dianggap miskin dalam DTSEN? Bagian ini menjelaskan konsep kemiskinan secara teknis, supaya keputusan di musdes bisa lebih objektif.

Estimasi 7 menit baca Bagian terpanjang

Mengapa konsep kemiskinan perlu dipahami?

Setiap orang yang tinggal di desa biasanya tahu siapa yang miskin dan siapa yang tidak. Tetangga, RT, kader posyandu, kepala dusun — semua punya intuisi yang baik tentang ini. Tetapi intuisi saja tidak cukup untuk pengambilan keputusan formal.

Ada beberapa alasan:

  • Intuisi sering dipengaruhi hubungan sosial: yang dekat dengan kita terlihat lebih layak dibantu
  • Kondisi yang terlihat tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya: ada yang tampak sederhana tetapi punya tabungan besar; ada yang punya rumah bagus tetapi terlilit utang berat
  • Tanpa kriteria yang jelas, keputusan musdes bisa menjadi arena negosiasi sosial, bukan musyawarah berbasis fakta

Itulah mengapa pemerintah punya indikator-indikator resmi yang dipakai untuk menentukan kemiskinan. Mari kita pahami satu per satu.

Garis kemiskinan menurut BPS

Indikator paling klasik adalah Garis Kemiskinan (GK) yang dihitung BPS setiap semester. Garis kemiskinan adalah jumlah pengeluaran minimum yang dibutuhkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non-makanan.

Konsep ini sederhana: kalau pengeluaran Anda per bulan di bawah garis kemiskinan, Anda dianggap miskin secara statistik. Kalau di atas, Anda dianggap tidak miskin.

Garis kemiskinan terdiri dari dua komponen:

  • Garis Kemiskinan Makanan (GKM) — pengeluaran minimum untuk memenuhi kebutuhan kalori 2.100 kkal per hari
  • Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM) — pengeluaran minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya
Catatan Penting

Garis kemiskinan berbeda di setiap daerah dan diperbarui setiap semester (Maret dan September). Garis kemiskinan di Jakarta lebih tinggi daripada di Kalimantan Timur, karena harga kebutuhan dasar di Jakarta lebih mahal. Untuk angka terbaru di Kaltim atau Paser, rujuk pada publikasi BPS Provinsi Kalimantan Timur atau BPS Kabupaten Paser.

Kemiskinan ekstrem

Di bawah kategori "miskin biasa", ada kategori yang lebih parah lagi: kemiskinan ekstrem.

Kemiskinan ekstrem adalah kondisi seseorang dengan pengeluaran kurang dari sekitar Rp 12.000 per orang per hari berdasarkan ukuran Bank Dunia (Purchasing Power Parity USD 2,15 per hari). Pemerintah Indonesia menargetkan penghapusan kemiskinan ekstrem.

Penanda kondisi kemiskinan ekstrem yang biasa terlihat di lapangan:

  • Tidak makan tiga kali sehari secara konsisten
  • Anak-anak putus sekolah karena tidak mampu
  • Tidak punya akses sanitasi sama sekali (tidak punya jamban)
  • Rumah tidak layak huni (atap bocor, dinding bambu/anyaman, lantai tanah)
  • Tidak punya akses air bersih
  • Bekerja serabutan tanpa pendapatan tetap

Keluarga dalam kondisi kemiskinan ekstrem biasanya berada di desil 1 dalam DTSEN, dan menjadi prioritas utama berbagai program bantuan.

Kemiskinan tidak hanya tentang uang

Salah satu kemajuan penting dalam pengukuran kemiskinan modern adalah konsep kemiskinan multidimensi. Konsep ini mengakui bahwa kemiskinan bukan hanya soal pendapatan, tetapi juga tentang kekurangan akses pada hal-hal mendasar lainnya.

Indeks Kemiskinan Multidimensi (IKM) yang diadaptasi BPS dan Bappenas mengukur kekurangan dalam tiga dimensi besar:

Dimensi 1: Kesehatan

  • Kematian anak balita
  • Kekurangan gizi (stunting, wasting)
  • Akses ke layanan kesehatan
  • Kepemilikan jaminan kesehatan

Dimensi 2: Pendidikan

  • Lama bersekolah anggota keluarga
  • Anak putus sekolah
  • Akses pendidikan dasar yang tuntas

Dimensi 3: Standar Hidup

  • Akses air minum yang aman
  • Akses sanitasi yang layak
  • Sumber penerangan (listrik)
  • Bahan bakar memasak yang layak
  • Kondisi atap, dinding, dan lantai rumah
  • Kepemilikan aset (tabungan, kendaraan, alat rumah tangga)
Mengapa Ini Penting

Sebuah keluarga bisa saja punya pendapatan sedikit di atas garis kemiskinan, tetapi kekurangan banyak hal dalam hidupnya: anak putus sekolah, tidak punya jamban, atap bocor, kepala keluarga sakit kronis. Dalam pengukuran multidimensi, keluarga ini tetap dianggap miskin meski "secara uang" tidak miskin. DTSEN mempertimbangkan dimensi-dimensi ini.

"Miskin" vs "Rentan Miskin"

Ini istilah yang sering tertukar. Mari kita perjelas:

Kategori Karakteristik
Miskin Ekstrem Pengeluaran jauh di bawah garis kemiskinan; sering kekurangan kebutuhan dasar yang paling pokok. Setara desil 1.
Miskin Pengeluaran di bawah garis kemiskinan, tetapi tidak ekstrem. Setara desil 2.
Rentan Miskin Pengeluaran sedikit di atas garis kemiskinan (sekitar 1 sampai 1,5 kali GK). Mereka tidak masuk kategori miskin secara teknis, tetapi sangat rentan jatuh ke jurang kemiskinan jika ada guncangan: PHK, sakit, gagal panen, bencana. Setara desil 3 dan 4.
Hampir Mampu Pengeluaran lebih dari 1,5 kali garis kemiskinan, tetapi belum tergolong kelas menengah. Setara desil 5 dan 6.
Mampu Setara desil 7 ke atas. Tidak menjadi sasaran bantuan sosial reguler.

Kategori "rentan miskin" sering terabaikan dalam musdes. Padahal mereka sangat penting diperhatikan. Sedikit guncangan saja, mereka bisa jatuh ke kategori miskin. Pemerintah punya berbagai program preventif untuk kelompok ini.

Studi Kasus

Keluarga Bu Sumiati: Rentan, bukan Miskin

Bu Sumiati di salah satu desa di Kabupaten Paser punya warung kelontong kecil dengan pendapatan bersih sekitar Rp 2,5 juta per bulan. Keluarga ada 4 orang. Rumah semi-permanen dengan kondisi cukup baik. Dua anak masih sekolah.

Bu Sumiati tidak miskin secara teknis. Pengeluarannya di atas garis kemiskinan. Tetapi kalau warungnya tutup karena sakit atau bangkrut, dalam 2-3 bulan keluarga ini bisa jatuh ke kategori miskin.

Bu Sumiati adalah kategori "rentan miskin". Mereka tidak menerima PKH, tetapi mungkin layak menerima program kewirausahaan, bantuan modal usaha kecil, atau program ketahanan pangan.

Cara mengenali tingkat kemiskinan saat verifikasi

Saat verifikasi awal di lapangan, perhatikan kombinasi dari indikator-indikator berikut. Tidak ada satu indikator pun yang berdiri sendiri. Yang membedakan tingkat kemiskinan adalah seberapa banyak indikator yang menunjukkan kekurangan.

Indikator kondisi rumah

  • Lantai: tanah, semen, ubin, keramik
  • Dinding: bambu, kayu sederhana, semen, tembok
  • Atap: rumbia, seng, genteng
  • Luas rumah per anggota keluarga
  • Sumber air: sumur tidak terlindung, sumur terlindung, PDAM
  • Sanitasi: tidak punya jamban, jamban umum, jamban sendiri

Indikator ekonomi keluarga

  • Pendapatan utama dan sampingan
  • Stabilitas pekerjaan kepala keluarga
  • Jumlah anggota keluarga produktif yang bekerja
  • Aset penting: kendaraan, ternak, tanah
  • Kepemilikan barang elektronik

Indikator akses layanan

  • Status BPJS Kesehatan (PBI atau mandiri)
  • Akses pendidikan anak
  • Akses air minum yang aman
  • Akses listrik (PLN, swadaya, tidak ada)

Indikator kerentanan

  • Adakah anggota keluarga yang sakit kronis?
  • Adakah disabilitas dalam keluarga?
  • Adakah lansia yang tidak punya pendapatan?
  • Apakah pendapatan keluarga musiman (mis. petani, nelayan)?
Untuk Perangkat Desa

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak perlu Anda hafal semua. Saat ground check, BPS punya instrumen baku yang menanyakan ini secara sistematis. Tugas Anda di tingkat desa adalah memastikan data yang Anda input dari hasil musdes mencerminkan kondisi nyata, bukan kondisi yang dipoles.

Apa selanjutnya?

Anda sekarang paham bagaimana kemiskinan diukur. Bagian berikutnya akan menghubungkan kemiskinan dengan satu masalah krusial: stunting. Mengapa stunting hampir selalu beriringan dengan kemiskinan? Apa peran data DTSEN dalam intervensi stunting?