Bagian 02

Memahami Desil

Konsep desil adalah jantung sistem DTSEN. Desil menentukan keluarga mana yang menjadi prioritas dalam berbagai program. Mari kita pahami dengan jelas.

Estimasi 5 menit baca Banyak contoh kasus

Apa itu desil?

Desil adalah cara membagi masyarakat menjadi 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan, dari yang paling miskin hingga yang paling mampu. Setiap kelompok berisi 10% penduduk.

Bayangkan kita mengurutkan seluruh keluarga di Indonesia dari yang paling miskin di paling kiri, sampai yang paling mampu di paling kanan. Kemudian kita bagi barisan itu menjadi 10 bagian yang sama besar. Setiap bagian inilah yang disebut desil.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Paling Miskin Paling Mampu

Jadi:

  • Desil 1 = 10% penduduk paling miskin di Indonesia
  • Desil 2 = 10% berikutnya, sedikit di atas desil 1
  • ... dan seterusnya...
  • Desil 10 = 10% penduduk paling mampu
Perlu Diingat

Semakin rendah angka desil, semakin besar peluang menerima bantuan sosial. Penerima bantuan sosial pada umumnya berasal dari desil 1 sampai desil 5.

Desil dihitung secara nasional

Ini bagian yang penting untuk dipahami dengan benar: desil dihitung secara nasional. Setiap keluarga di seluruh Indonesia diperingkat berdasarkan perbandingan dengan seluruh penduduk Indonesia. Hasilnya, setiap keluarga memiliki satu angka desil — bukan beberapa angka yang berbeda-beda.

Jadi kalau keluarga Pak Hasan ada di desil 3, itu berarti kesejahteraannya berada di kelompok 30% terbawah secara nasional. Angka ini sama, mau dilihat dari pusat, provinsi, maupun kabupaten. Desilnya tidak berubah tergantung siapa yang melihat.

Meluruskan Kesalahpahaman

Kadang muncul anggapan bahwa satu keluarga punya "desil nasional", "desil provinsi", dan "desil kabupaten" yang berbeda-beda. Ini keliru. Desil dalam DTSEN dihitung sekali secara nasional. Yang bisa berbeda per wilayah adalah cara data ditampilkan dan disaring, bukan angka desilnya. Penjelasannya ada di bagian berikut.

Tapi datanya bisa disaring per wilayah

Walaupun desil dihitung secara nasional, data DTSEN dapat disaring dan ditabulasi per wilayah administratif oleh pihak yang memiliki akses resmi — yaitu Kementerian, Lembaga, dan Pemerintah Daerah (disingkat K/L/D), termasuk pemerintah desa.

Inilah yang membuat desil yang dihitung secara nasional tetap bisa dimanfaatkan secara sangat lokal. Contohnya:

1

Menyaring berdasarkan wilayah

Pemerintah desa dapat menampilkan daftar keluarga di desanya yang berada di desil 1 sampai 5 — lengkap dengan nama dan alamat (by name by address). Angka desilnya tetap peringkat nasional, hanya ditampilkan khusus untuk desa tersebut.

2

Menabulasi berdasarkan variabel

Desa dapat melihat tabulasi kondisi warganya berdasarkan variabel tertentu — misalnya jumlah rumah dengan lantai tanah, atau jumlah keluarga tanpa jamban — untuk merancang program lokal seperti rumah sehat.

3

Mengurutkan kondisi penduduk

Desa dapat mengurutkan penduduk berdasarkan tingkat pendidikan, tingkat pengeluaran, atau indikator lain untuk memahami kondisi sosial-ekonomi wilayahnya secara lebih mendalam.

Jadi prinsipnya: desil itu nasional, tetapi pemanfaatannya bisa sangat lokal. Lebih lengkap tentang cara desa memanfaatkan data ini dibahas di bagian Pemanfaatan DTSEN di Desa.

Bagaimana sistem menentukan desil?

BPS tidak menentukan desil hanya dari satu indikator. Sistem mempertimbangkan banyak faktor sekaligus:

  • Pendapatan dan pengeluaran rumah tangga
  • Kondisi rumah: jenis lantai, dinding, atap, sumber air, sanitasi
  • Aset yang dimiliki: kendaraan bermotor, tanah, peralatan rumah
  • Pendidikan kepala keluarga
  • Status pekerjaan dan jenis pekerjaan
  • Jumlah tanggungan dalam keluarga
  • Akses layanan dasar: kesehatan, pendidikan

Sistem juga memeriksa silang dengan data administratif dari Dukcapil, BPJS Kesehatan, PLN, dan Pertamina. Itulah mengapa kadang ada keluarga yang merasa miskin tetapi desilnya naik — misalnya, baru saja terdeteksi memiliki daya listrik besar atau aset tertentu.

Contoh Kasus

Keluarga Pak Hasan di Kabupaten Paser

Pak Hasan adalah petani di salah satu desa di Kabupaten Paser. Pendapatan keluarganya sekitar Rp 1,5 juta per bulan untuk 4 orang anggota. Rumahnya semi-permanen.

Berdasarkan kondisinya, Pak Hasan masuk desil 3 — artinya keluarganya berada di kelompok 30% terbawah secara nasional. Angka ini berlaku tetap; tidak berubah meski dilihat dari tingkat provinsi maupun kabupaten.

Ketika pemerintah Desa menyaring data DTSEN untuk wilayahnya, keluarga Pak Hasan akan muncul dalam daftar desil 1–5 yang berhak dipertimbangkan untuk berbagai program bantuan. Inilah cara desil nasional dimanfaatkan secara lokal.

Desil bersifat dinamis, bukan statis

Hal penting lain: desil bisa berubah. Kondisi sosial-ekonomi keluarga selalu bergerak, dan sistem DTSEN diperbarui secara berkala beberapa kali dalam setahun. Maka:

  • Keluarga yang dulu di desil 2 bisa naik ke desil 3 jika pendapatan membaik
  • Keluarga yang dulu di desil 5 bisa turun ke desil 3 jika kepala keluarga sakit dan kehilangan pekerjaan
  • Keluarga baru (anak menikah dan pisah rumah) akan punya desilnya sendiri

Inilah mengapa pemutakhiran data berkala sangat penting. Data DTSEN yang tidak pernah diperbarui akan kehilangan akurasinya seiring waktu. Lebih lanjut tentang ini dibahas di bagian DTSEN itu Dinamis.

Bagaimana cara mengecek desil seseorang?

Warga dapat memeriksa status DTSEN dan perkiraan desilnya melalui:

  • Website resmi: cekbansos.kemensos.go.id
  • Aplikasi resmi: Cek Bansos (dapat diunduh di Play Store)
  • Datang ke kantor desa — operator desa atau agen statistik dapat membantu mengakses sistem SIKS-NG

Kalau warga merasa desilnya tidak sesuai kondisi nyata, ada mekanisme usul-sanggah yang bisa diajukan melalui aplikasi Cek Bansos atau melalui perangkat desa. Lebih lanjut tentang ini dibahas di bagian Panduan Musdes.

Apa selanjutnya?

Anda sekarang paham bagaimana DTSEN memilah penduduk berdasarkan desil yang dihitung nasional namun bisa disaring per wilayah. Pertanyaan berikutnya: "Apa sebenarnya yang dimaksud dengan 'miskin' dalam konteks DTSEN?"

Mari kita bedah indikator kemiskinan di bagian berikutnya.